Di banyak tempat, shalat sering dipahami cuma sebagai rangkaian gerakan dan bacaan yang harus benar sesuai aturan fiqih. Sementara sisi batinnya, rasa khusyuk, kehadiran hati, kedekatan dengan Allah, dianggap urusan lain yang terpisah, bahkan kadang dipandang sebelah mata oleh kalangan yang lebih fokus pada hukum. Buku ini mengangkat pemikiran Tuan Guru Abdurrahman Shiddiq Al-Banjari, mufti Kerajaan Indragiri di masanya, yang lewat kitab Asrarus Shalat Min ‘Iddati Kutubil Mu’tamadat justru menolak pemisahan itu. Baginya syariat yang tidak dijiwai hakikat hanya jadi gerakan kosong, dan hakikat yang tidak berpijak pada syariat malah batal dengan sendirinya.
Isi kitab dikupas satu per satu, mulai dari dua belas hal yang mengatur wajah lahiriah shalat sampai tiga hal yang menyentuh sisi dalamnya, seperti ikhlas dan khusyuk, plus sedikit sentuhan gagasan fana fillah bagi yang ingin masuk lebih jauh ke ranah tasawuf. Yang membuat pemikiran ini terasa dekat dengan keseharian adalah cara Tuan Guru merangkai keduanya jadi satu paket utuh, bukan dua hal yang harus dipilih salah satu. Orang awam tetap bisa mengikuti tuntunan fiqihnya sambil pelan-pelan belajar menghadirkan hati, tanpa harus jadi ahli tasawuf dulu.
Bagian akhir menyoroti bagaimana ajaran ini masih terasa gemanya di masyarakat Indragiri Hilir sampai sekarang, terlihat dari cara mereka menjaga kualitas ibadah, memegang akidah, dan merawat warisan pemikiran ulama mereka sendiri. Buku ini pada dasarnya mengajak pembaca berhenti memilih antara “shalat yang benar” atau “shalat yang khusyuk”, karena keduanya memang tidak pernah dimaksudkan untuk berjalan sendiri-sendiri.
| Detail Buku | |
| ISBN | 978-634-05-3528-0 |
| Penulis | Dr. Amaruddin, S.Ag., M.A. |
| Editor | Weni Yuliani, S.Si,. M.M., C.Ed |
| Penyunting | Alda Anesa Vetdri, S.Pd |
| Desain Sampul & Tata Letak | Bunga Elza Ulandari, S.Psi |
| Penerbit | CV. SALINA PUBLISHING INDONESIA |
| Kategori | Fiqih |
| Tahun Terbit | 2026 |

Reviews
There are no reviews yet.